Home•Blog •Pajak

AI Bisa Salah, Kasus Deloitte Jadi Pelajaran bagi Pelaku Bisnis

Dinda Maulia Dewanti 2 menit baca
ai bisa salah

Wellner Consulting — Artikel ini membahas mengapa AI bisa salah dan pelajaran kasus Deloitte bagi pelaku bisnis. Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pekerjaan profesional kembali menjadi sorotan setelah Deloitte Australia harus mengembalikan sekitar A$97 ribu atau sekitar Rp1 miliar terkait laporan yang dibuat untuk pemerintah Australia.

Laporan peninjauan sistem IT dan kerangka kepatuhan bantuan sosial setebal 237 halaman tersebut ditemukan memuat sejumlah referensi akademik dan kutipan putusan pengadilan yang ternyata tidak benar. Temuan ini dikaitkan dengan penggunaan AI dalam penyusunan laporan.

AI Bisa Salah: Fenomena AI Hallucination

Kasus tersebut menjadi contoh dari fenomena AI hallucination, yaitu kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan, tetapi sebenarnya salah, tidak akurat, atau bahkan tidak benar-benar ada.

Kasus ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap human judgment dan proses verifikasi. Informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa, terutama ketika digunakan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan data, regulasi, hukum, keuangan, dan perpajakan.

Risiko AI Bisa Salah pada Laporan Keuangan dan Pajak

Hal yang sama perlu diperhatikan oleh pemilik bisnis yang mulai menggunakan AI untuk membantu menyusun laporan keuangan dan perpajakan. Kesalahan data atau informasi yang tidak tervalidasi dapat berdampak pada angka dalam laporan, pelaporan pajak, kewajiban perpajakan, hingga keputusan bisnis.

Karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti akuntan atau konsultan pajak. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu melalui proses pemeriksaan dan validasi sebelum digunakan sebagai dasar laporan maupun keputusan perusahaan.

Jangan sampai laporan keuangan dan perpajakan perusahaan bergantung pada hasil AI yang belum diverifikasi kebenarannya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu AI hallucination?

Kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak benar.

Apa pelajaran dari kasus Deloitte Australia?

Penggunaan AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap human judgment dan proses verifikasi.

Bagaimana sebaiknya bisnis menggunakan AI untuk laporan keuangan dan pajak?

Sebagai alat bantu, bukan pengganti akuntan atau konsultan pajak. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi.

Butuh Konsultan Pajak untuk Verifikasi Laporan?

Jangan sampai laporan keuangan dan perpajakan perusahaan bergantung pada hasil AI yang belum diverifikasi. Lihat layanan Jasa Perpajakan kami atau hubungi tim Wellner Consulting. Kami melayani konsultan pajak Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bali.

Informasi resmi lainnya dapat dilihat di situs resmi DJP.

Editor: Mohammad Dody Alfayadh